Oleh:
Achmad wahyudi[1]
Saat
Nabi Muhammad meninggal tersebut banyak sekali perdebatan dikalangan kelompok
muhajirin dan kaum Anshor tentang pengganti Nabi Muhammad sebagai Khalifah
untuk umat islam. Setelah kedua kaum muslim tersebut berdebat maka salah satu
dari mereka dipanggil terlebih dahulu secara baik-baik oleh Abu Bakar dan
dijelaskan bahwa keduanya sangat ikhlas untuk berkorban demi islam. Tapi
keduanya saling membicarakan hal pribadinya.
Maka
tibalah saat itu ketika Abu Bakar di tunjuk sebagai Khalifah pengganti Nabi
Muhammad, setelah dibaiat Abu Bakar menyampaikan sebuah Pidato Bahwa dia hanya
sebatas Manusia biasa yang ditunjuk untuk menggantikan Nabi Muhammad sebagai
Khalifah bukan sebagai penerus utusan Allah. Adapun kutipan dari pidato Abu
Bakar ialah sebagai berikut :
“Amma Ba’d. Wahai sekalian manusia. Aku diserahi tugas sebagai Khalifah, padahal aku bukan orang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika aku melakukan kebaikan maka bantulah dan jika aku berbuat kesalahan maka ingatkanlah. Jujur itu amanah, sedangkan dusta itu khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku sampai aku memberikan haknya, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku sampai akku mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan Jihad di jalan Allah kecuali Allah akan menjadikan mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan kotor menyebar di suatu kaum kecuali Allah akan meyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka Untuk itu, taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya. Bila aku melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya maka kalian tidak wajib menaatiku.”[2]
“Amma Ba’d. Wahai sekalian manusia. Aku diserahi tugas sebagai Khalifah, padahal aku bukan orang terbaik di antara kalian. Untuk itu, jika aku melakukan kebaikan maka bantulah dan jika aku berbuat kesalahan maka ingatkanlah. Jujur itu amanah, sedangkan dusta itu khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku sampai aku memberikan haknya, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku sampai akku mengambil hak darinya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan Jihad di jalan Allah kecuali Allah akan menjadikan mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan kotor menyebar di suatu kaum kecuali Allah akan meyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka Untuk itu, taatilah aku selama aku menaati Allah dan Rasul-Nya. Bila aku melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya maka kalian tidak wajib menaatiku.”[2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar