Daftar Tulisan

JANGAN MELUPAKAN SEJARAH

Kamis, 09 April 2015

Swastika

            Simbol yang paling terkenal dari masa Reich Ketiga adalah swastika. Simbol ini tertera pada bendera merah dengan tanda swastika dalam lingkaran putih. Ketiga warna dalam swastika, yaitu merah, putih, dan hitam diambil dari warna dasar bendera Jerman yang pertama kali dipakai sebagai lambang dari kekaisaran Jerman pada tahun 1897.
Sekalipun sering diasosiasikan dengan rezim Nazi, tetapi simbol ini telah eksis jauh sebelumnya di beberapa kebudayaan dunia. Swastika memang merupakan simbol kuno yang dianggap memiliki kekuatan hebat yang telah muncul 3000 – 4000 tahun yang lalu, bahkan simbol ini pun telah muncul sebagai simbol bangsa Mesir Kuno, Ankh. Simbol ini muncul di dalam artifak-artifak, seperti tembikar dan koin pada masa Troy seribu tahun sebelum Masehi.
Swastika bukanlah simbol yang dimonopoli oleh satu kebudayaan atau bangsa saja. Pada masa beberapa ribu tahun, simbol ini telah digunakan oleh banyak kebudayaan dengan cakupan geografis yang cukup luas, seperti di Cina, Jepang, India, Turki, Persia, Babilonia, Mesopotamia, Tibet, dan wilayah Eropa Selatan. Di tiap kebudayaan, swastika memiliki nama yang berbeda. Masyarakat Cina menyebutnya Wan, masyarakat Inggris menyebutnya fylfot, mayarakat Yunani menyebutnya tetraskelion atau gammadion, Masyarakat India menyebutnya svastika, dan di Jerman sendiri disebut hakenkreuz.  Simbol ini pun bahkan muncul di masjid-masjid di Isfahan, Iran, dan di Masjid Taynal, Libanon.
          Etimologi kata Swastika muncul dari kata su, asti dan ka. Su artinya ‘baik’, asti artinya ‘adalah’, sedangkan akhiran ka merupakan bentuk nominalisasi dari kata sifat. Dari etimologi ini muncul dari penerapan kata Swastyastu yang berarti ‘semoga dalam keadaan baik’.
Simbol swastika masih mewakili hal-hal yang bersifat luhur dan sakral terutama bagi pemeluk Hindu. Budha, dan Celtic (simbol dewa api Brigit) sebagai kepercayaan kuno bangsa Jerman.
Simbol Swastika dibedakan dari perputaran keempat tangan swastika. Simbol yang digunakan Reich Ketiga bergambarkan Swastika yang bergerak ke arah kanan sesuai dengan arah jarum jam yang dapat bermakna keberuntungan, kesehatan, dan kehidupan, sedangkan swastika yang bergerak ke arah kiri diasosiasikan seperti Betara kala yang menakutkan, bermakna ketidakberuntungan, dan sering digunakan untuk praktik-praktik sihir.
        Seorang penyair dan ideolog nasionalistik Jerman bernama Guido von List pada tahun 1910 menyarankan pemakaian Swastika untuk organisasi atau gerakan anti-Yahudi. Ketika Adolf Hitler membentuk Partai Sosialis Nasionalis (Nazi) tahun 1919 – 1920, simbol rasial Jerman ini pun diadopsinya dan setelah Nazi berkuasa, simbol yang sama diresmikan sebagai bendera naional Jerman pada 15 September 1935.
           Sekalipun berasal dari bahasa Sansekerta, tetapi Nazi mau menggunakannya karena bahasa tersebut menurut teori yang mereka anut termasuk dalam kelompok bahasa-bahasa Indo Eropa, bahkan merupakan yang tertua. Menurut ahli bahasa dari Jerman abad ke-19, Friedrich Max Muller, kelompok bahasa ini “memiliki sifat kearyaan” dan Nazi yang begitu mengultusakan “kearyaan” punya alasan yang kuat untuk mengadopsinya.




Sumber :

Angkasa Edisi Koleksi. Kedigdayaan Nazi Jerman (1933 – 1945). Jakarta: PT Gramedia.



Sumber foto :

REVOLUTION CHINA 1911



Disusun Oleh: Achmad Wahyudi

        
          Jika memperhatikan lalu membedah film tentang Revolusi China yang terjadi pada tahun 1911 memang begitu menarik untuk dibahas melalui lisan ataupun melalui tulisan, karena dalam film tersebut bukan hanya menceritakan perjuangan para cendikiawan dan pelopor lain yang dalam film Revolusi China tersebut tujuannya untuk berjuang dan merubah sebuah tatanan negara dari konsep Monarki menjadi Republik, tetapi di film tersebut juga ada nilai kebudayaan serta interaksi sosial masyarakat Tiongkok yang terjadi pada film Revolusi China 1911. Selain beberapa penjelasan yang sudah tertera di atas mengenai kebudayaan Tiongkok dan Interaksi sosial yang terdapat di film Revolusi China 1911, pasti disisi lain ada juga faktor-faktor penyebab terjadinya Revolusi, Proses terjadinya Revolusi, dan Dampak Revolusi Tiongkok terhadap masa depan Tiongkok.

            Secara de fakto Revolusi China ini di gagasi oleh Dr. Sun Yat Sen, dengan rencana awal melakukan pembrontakan Huangzhou tujuannya ialah untuk mengahiri Dinasti Qing, pada tanggal 27 April 1911 dengan meminta bantuan Huang Xin dan para cendikiawan di China lainnya untuk melaksanakan pemberontakan di Huangzhou. Dalam pidato yang disampaikan oleh Dr.Sun Yat Sen setelah perang di Huangzhou berkahir beliau mengatakan bahwa pemberontakan yang direncanakan di Huangzhou ini mengalami kegagalan, dalam pidato yang disampaikan tersebut penggagas Revolusi China ini juga memberikan beberapa penjelasan tentang alasan melakukan suatu penyerangan di Huangzhou yaitu penderitaan,diskriminasi, dan intimidasi. Selain itu beliau juga mengatakan bahwa masyarakat mengalami perlakuan tidak adil China yang saat ini lemah, sudah lama korup dan mengeliat kesakitan.
            Adapun tujuan diadakannya revolusi China ini beliau berharap suatu saat nanti masyarakatnya dapat mengejar kebahagiaan, dan rasnya akan mendapatkan kembali martabat. Dalam persitiwa pemberontakan Huangzhou yang gagal tersebut banyak sekali cendikiawan yang rela mengorbankan dirinya untuk membuat suatu konsep baru dari tatanan bernegara yaitu Republik.

            Pemerontakan di Huangzhou berakhir dengan penembakan meriam yang di lakukan oleh pasukan dari dinasti Qing kepada Huang Xin, setelah peristiwa Pemberontakan di Huangzhou selesai kemudian, ada percakapan dari pihak dinasti Qing mereka saling berpendapat tentang gagasan Revolusi China yang dilakukan oleh Dr. Sun Yat Sun. Hal ini karena menyusahkan mereka dengan adanya perlawanan yang terus di lakukan oleh kaum pemeberontak. Dalam peristiwa introgasi yang dilakukan oleh salah satu abdi dalem dinasti Qing, Lin Jeumin yang merupakan salah satu cendikiawan Revolusi China berpendapat bahwa adapun alasan kenapa dia ikut serta dalam Revolusi China karena dinasti Qing merupakan suatu pemerintahan (monarki) yang memiliki suatu sistem lama dan orientasi pengadilan Qing ini tidak memihak kepada rakyat dengan peristiwa rakyat yang semakin menderita dan kelaparan serta tragis untuk di lihat.
            Setelah Introgasi tersebut selesai Lin Jeumin bersikukuh akan tetap melanjutkan gerakan Revolusi China hingga kematian menjemputnya, di lain cerita salah satu pihak dari dinasti Qing bercengkrama dengan Sir John Newell untuk menekan kerusuhan di Sichuan, setelah pembicaraan tentang penekanan kerusuhan di Sichuan Dr. Sun Yat Sen berkeinginan melakukan suatu pemberontakan sekali lagi dengan meminjam beberapa dana kepada pihak di luar China dan juga menambah pasukan untuk menyerang dinasti Qing.
            Dengan penyerangan yang dilakukan oleh pihak Dr. Sun Yat Sen kepada pihak dinasti Qing, pihak Dr. Sun Yat Sen mendapatkan kepercayaan dari salah satu abdi dalam dinasti Qing yang mengikuti gerakan kaum Revormasi. Hingga di akhir peristiwa Dr. Sun Yat Sen berhasil menurunkan tahta pemimpin dinasti Qing dan beliau menjadi Presiden pertama di Republik China pada tahun 1912.