Oleh:
Achmad Wahyudi[1]
A.
Perang
Badar Kubra
Sebab
peperangangan
Dalam buku karangan
Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A. Shaleh yang berjudul Buku Pintar Sejarah Islam
ditulis sebab terjadinya perang Badar ialah dikarenakan keinginan Nabi Muhammad
SAW untuk mengambil harta dan barang-barang golongan Muhajirin yang telah
dirampas oleh kaum Quraisy. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW ingin mencegat
kafilah dangan Quraisy dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Lalu Nabi
Muhammad SAW berkata kepada para sahabat “Ada kafilah Quraisy yang membawa
harta kalian. Cegatlah mereka, semoga Allah menyertai kalian,”. Setelah Nabi
Muhammad SAW berkata seperti itu sebagian para sahabat berserta Nabi Muhammad
SAW bergegas untuk pergi untuk mengejar pada kafilah dan sisanya tetap berdiam
di tempat karena mereka mengira peperangan tidak akan terjadi, hal ini
dikarenakan kafilah Quraisy hanya berjumlah 40 orang. Sebelum Nabi Muhammad SAW
bergegas pergi beliau menunjuk Abu
Lubabah menjadi pemimpin sementara di madinah sementara Ibnu Umm Maktum di
tunjuk Nabi untuk menjadi imam sholat. Setelah menunjuk Abu Lubabah dan Ibnu
umm maktum beliau berangkat pada 8 ramadhan tahun 2 H[2]
untuk mengejar kafilah Quraisy.
Perang Badar dan Kekalahan Pasukan
Quraisy
Pagi
hari itu umat Islam bersiap untuk melawan kaum Quraisy, sehabis pertempuran itu
berlangsung maka kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Quraisy, Seperti
yang tertulis dalam bukunya Buku Pintar Sejarah Islam karya Qasim A. Ibrahim
dan Muhammad A.saleh dalam buku tersebut
dijelaskan bahwa Dari golongan umat Islam yang bernama Hamzah bin Abdul
Muthallib bersahil membunuh Aswad bin Abdul Asad al-Makhzumi. Setelah umat
Islam berhasil menumpas salah satu pasukan Quraisy maka keluarlah tiga orang
pasukan Quraisy dari barisan tempur tiga orang itu ialah ‘Utbah bin Rabi’ah,
Syaybah bin Rabi’ah, dan Walid bin ‘Utbhah. Adapun tujuan dari keluarnya tiga
orang tersebut ialah beringinan agar meminta tanding ulang kepada Nabi Muhammad,
setelah itu beliau menyuruh beberapa pasukan Islam bertanding dengan pasukan
Quraisy yang Nabi tunjuk saat itu ialah Hamzah bin Abdul Muthallib, Ali bin Abu
Thalib, ‘Ubaydah bin al-Harits. Setelah pertempuran ulang yang diinginkan oleh
pasukan Quraisy tadi disetujui maka Hamzah bersama Ali berhasil mengalahkan
Syaybah dan Walid dengan sangat mudah, sedangkan ‘Ubaydah merasa kesulitan
untuk melawan ‘Utbah sehingga Ali bersama Hamzah menolong ‘Ubaydah hingga
‘Utbah meninggal pada perang Badar. Dengan sigap Ali dan Hamza membopong
‘Ubaydah kehadapan Nabi Muhammad.
Setelah
Pertarungan duel tersebut selesai dilaksanakan lalu peprangan berlanjut hingga
puncaknya pasukan umat Islam meraih kemenangan. Adapun pasukan umat Islam dan
pasukan Quraisy yang gugur dalam pertarungan ini ialah pasukan muslim 14 orang
dan pasukan Quraisy 70 orang.
Jumlah Pasukan Muslim dan Pasukan
Musyrik
Pasukan
muslim berjumlah 314 orang. Mereka terdiri dari 83 orang muhajirin, 61 dari
suku Aus, dan 170 dari suku Khazraj. Bersama mereka terdapat dua ekor kuda,
satu milik Zubayr ibn ‘Awwam dan satunya milik Miqdad ibn al-Aswad, serta 70
ekor onta yang setiap satu ekor di tunganggi dua hingga tiga orang.
Sementara
itu, pasukan musyrik berjumlah 950 orang di bawah pimpinan Abu Jahl. Mereka
membawa 100 ekor kuda, 700 ekor unta, dan 600 pakaian perang.
B.
Perang Bani Qaynuqa’
Sebab
Peperangan
Perang
Bani Qaynuqa merupakan perang yang dialami Nabi Muhammad saat adanyan
pengeroyokan seorang umat muslim karena membela pekerja sepuh yang merupakan
seorang wanita, adapun yang tertulis di dalam buku karya Qasim A. Ibrahim dan Muhammad A.saleh yang
berjudul Buku Pintar Sejarah Islam dijelaskan bahwa suatu hari seorang wanita
arab datang ke pasar Qaynuqa’ untuk menyepuh perhiasan. Lalu dia duduk
menunggu. Tiba-tiba sekelompok Yahudi datang dan langsung memintanya membuka
wajah, tetapi ia menolak tukang sepuh
tadi diam-diam menyangkutkan ujung pakainannya ke bagian punggungnya. Ketika
wanita itu berdiri auratnya terbuka. Melihat hal tersebut sekelompok orang
yahudi tadi tertawa senang. Wanita itu menjerit minta pertolongan. Dan
datanglah seorang lelaki muslim menghampiri tukang sepuh yahudi dan
membunuhnya. Orang yahudi tersebut marah dan mengeroyoki lelaki muslim tersebut
hingga tewas.
Terjadinya Perangan Bani Qaynuqa’
Tindakan
yang dilakukan orang Yahudi tadi membuat umat Islam naik pitam. Kedua belah
pihak terlibat bentrok, adapun orang yang pertama kali melanggar perjanjian
dengan Nabi ialah orang Yahudi. Mendengan kejadian tersebut Nabi Muhammad
bergegas pergi untuk memerangi mereka, saat mereka melihat kedatangan Nabi
Muhammad dan pasukannya merekapun bersembunyi di balik benteng akan tetapi
mereka berhasil dikepung oleh Nabi selama lima belas hari. Peristiwa tersebut
terjadi pada Sabtum 15 Syawal 2 H. Nabi memerintahkan pengusiran kaum Yahudi
Bani Qaynuqa’, mereka keluar dari Madinah menuju perkampungan Adzra’at di Syam.
C.
Perang Uhud
Perang
Uhud merupakan priode lanjutan dari Perang Bani Qaynuqa’di Zaman Nabi Muhammad masih
hidup di dunia untuk memerangi kaum Musyrik, adapun sebab peperangan tersebut
ialah seperti yang tertulis di bawah ini.
Sebab
Peperangan
Sebagian
para pemuka Quraisy yang berhasil lolos dari perang Badar. adapun sebabab
terjadinya perang Uhud dikarenakan ingin membalaskan dendam sekaligus ingin
menangkat kembali kehormatan suku Quraisy yang sempat hilang dikarenakan
kekalahan yang terjadi pada perang badar tersebut. Kali ini ‘Ikrimah ibn abi
Jahl,Shafwan ibn Umayyah dan Abu Sufyan mengumpulkan semua suku setelah itu
mereka meminta bantuan kepada orang yang hartanya masih berada di tangan
kafilah Abu Sufyan.
Pada
perang Uhud kali ini, jumlah yang kaum Quraisy bawa ialah 3.000 orang dan kali
ini Quraisy di pimpin oleh Abu Sufyan. Pasukan sayap kanan dipimpin Khalid ibn
al-Walid sekalibug panglima pasukan berkuda. Pasukan sayap kiri dipimpin
‘Ikrimah ibn Abi Jahl, pasukan Infrantri dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah.
Selain membawa pasukan perang mereka juga membawa 200 ekor kuda, 700 pakaian
perang serta 15 wanita penabuh genderang dan penyemangat pasukan yang dipimpin
oleh Hindun bint Abi Sofyan.[3]
Setelah
pemimpin Quraisy beserta pasukannya berangkat untuk berperang melawan kaum
muslimin, Nabi Muhammad menerima surat dari pamannya yang bernama al-Abbas
terkait berangkatnya kaum Quraisy ini.
Setelah
Nabi Muhammad membaca surat dari pamannya tersebut beliau lalu meminta pendapat
para sahabat apakah memerangi kaum Quraisy atau menyelematkan diri. Dari
beberapa pendapat yang Nabi terima beliau memilih pendapat untuk berperang
pendapat tersebut berasal dari seorang pemuda dari kalangan sahabat yang tidak
ikut perang di Badar.
Setibanya
Nabi Muhammad di Uhud yang pada saat itu beliau berangkat dari Madinah pada
hari Sabtu, malam ke tujuh bulan Syawal berserta pasukan umat Islam yang
berjumlah 1.000 pasukan. Setibanya di Uhud beliau segera membuat markas di
Gunung Uhud, di tempat tersebut diperkirakan bisa melindungi pasukan. Untuk
penjagaan Nabi Muhammad menempatkan 50 pasukan pemanah yang di pimpin oleh
Abdullah bin Jubayr. Setelah itu Nabi Muhammad langsung membagi pasukan menjadi
tiga barisan; barisannya ialah barisan Muhajirin, barisan Khazraj, dan barisan
Aws. Dari ketiga barisan tersebut masing-masing dari mereka membawa 1 bendera,
bendera Mujahidin dibawa oleh Mush’ab ibn ‘Umayr, bendera Aws dibawa oleh Usayd
ibn Hudhayr, dan bendera Khazraj dibawa oleh Hubab ibn al-Mundzir.
Perang Bekecamuk
Pada
perang Uhud ini dimulai dengan serangan sayap kanan pasukan Makkah yang
dipimpin oleh Abu’ Amir al-Fasiq, yang dibantu pasukan berkuda pimpinan Khalid
ibn al-Walid, terhadap pasukan muslim sayap kiri. Dalam usaha kaum musyrik
untuk menjatuhkan pasukan muslim melalui jalur darat berhasil di halau melalui
serangan udara kaum muslimin berupa panahan kayu.
Selama
peperangan itu berlangsung pasukan muslim berhasil menporak-porandakan musuh,
sementara itu Hamzah bin Abdul Muthallib dan Abu Dujanah saling berlomba
menebas leher pasukan musyrikin yang lari dari medan perang. Dan seolah-olah
perang akan berakhir.
Kekalahan Pasukan Pemanah
Saat
para pemanah yang diperintahkan Nabi Muhammad mengira perang telah berakhir
mereka yang menjaga pertahanan di atas gunung turun untuk mengumpulkan ghanimah, kecuali Abdullah bin Jubayr
dan sepuluh orang lainnya karena mereka ingat akan pesan Nabi yang melarang
pasukan penjaga di atas gunung untuk turun. Saat seperti itu Khalid segera
megarahkan 200 pasukan musyrikberkuda untuk naik ke gunung dari belakang,
dengan naiknya 200 pasukan tadi mereka berhasil membunuh pasukan pemanah yang
berjumlah 10 pasukan muslim yang masih bertahan dan salah satunya ialah
Abdullah bin Jubayr. Setelah Khalid bersama pasukannya berhasil membunuh
pasukan pemanah umat Islam mereka menggempur pasukan muslim lainnya dan
berhasil membunuh Mush’ab bin ‘Umayr, Hamzah bin Abdul Muthalib, Anas bin
al-Nadhar, dan Sa’d bin al-Rabi’, setelah Ibnu Qam’ah berhasil membunuh Mush’ab
bin ‘Umayr dia mengira telah membunuh Nabi. Sambil berkata “Muhammad sudah aku
bunuh!”. Dan pada saat Ibnu Qam’ah berteriak hal demikian pasukan Islam lari
kocar-kacir dari tempat pertempuran.
D.
Perang
Hamra’ al-Asad
Pada
perang Hamra’ al-Asad ini diceritakan bahwa Nabi meninggalkan Uhud pada Sabtu
petang, pada malam harinya beliau dan para sahabat menginap di Madinah. Adapun
korban yang luka-luka diobati.[4]
Sesudah melaksanakan Shalat Subuh Nabi memerintahkan Bilal untuk memanggil para
sahabat yang telah kembali pada perang Uhud untuk bersiap mengejar musuh.
Meskipun dalam keadaan terluka dan letih , mereka tatap berangkat hingga tiba
di daerah Hamra’ al-Asad dan membuat markas di sana. Malam harinya mereka
membuat api unggun yang besar dengan tujuan agar pasukan musyrik mengira bahwa
pasukan muslim berjumlah sangat banyak. Ma’abad al-Khuza’i yang waktu itu masih
musyrik dari sku Khuza’ah lewat di depan markas pasukan muslim, lalu pergi.
Setelah
Ma’bad pergi lalu bertemu dengan pasukan musyrik dan bercakap-cakap beberapa
persoalan mengenai pasukan muslim. Dari percakapan tersebut Allah memasukkan
rasa takut dan khawatir ke hati pasukan musyrik. Mereka akhirnya bergegas
menuju Makkah. Sementara itu Nabi tinggal di Hamra’ al-Asad selama empat hari,
dari Minggu sampai Rabu, lalu kembal ke Madinah.
E.
Perang Bani Nadhir
Perang
Bani Ndhir terjadi pada Syawal, tahun 4 H Pada saat itu Nabi bersama para
sahabat pergi ke kampung Yahudi Bani Nadhir di Madinah. Tujuan nabi datang ke
Madinah ialah untuk menyelesaikan pembayaran diyat atas dua orang lelaki Yahudi
yang dibunuh secara batil oleh ‘Amr bin Umayyah al-Dhamari yag muslim. Selain
untuk membayar diyat Nabi juga berkeinginan menegakkan perjanjian yang sudah
dijalin dengan kaum Yahudi Madinah. Disaat Nabi dipersilahkan masuk dan
disambut dengan baik dengan dipersilahkan duduk di sisi samping rumah. Tetapi
niat baik itu bertujuan untuk membunuh Nabi, Mereka memilihcara menjatuhkan
sebongkah batu dari loteng ke arah Nabi yang tengah duduk.
Mengetahui
persekongkolan Bani Nadhir tersebut Jibril memberitahu Nabi tentang hal
tersebut dengan cepat Nabi segera bangkit dan pergi dari tempat duduknya lalu
pergi ke Madinah. Para sahabat yang saat itu pergi bersama Nabi tidak
mengetahui bahwan Nabi telah ke Madinah, saat mengetahui hal tersebut Nabi
mengutus Muhammad bin Maslamah untuk mendatangi Yahudi Bani Nadhir sesampainya
Muhammad bin Maslamah mendatangi Yahudi Bani Nadhir dia mengatakan “Rasulullah
Menutusku kepada kalian untuk mengusir kalian dari negeriku. Kalian telah
melanggar perjanjian yang telah dibuat. Aku memberimu waktu sepuluh hari. Jika
masih ada yang terlihat di sini lehernya akan di tebas!”.
Setelah
diperingatkan oleh Muhammad bin Maslamah Yahudi Bani Nadhir segera bersiap
pergi, tetapi saat mereka ingin meninggalkan Madinah Ibnu Salul mengutus
seorang untuk meyakinkan mereka bahwa ia akan membantu mereka. Tidak perginya
Yahudi Bani Nadhir membuat pasukan muslim bergerak, lalu mengepung mereka
selama lima belas hari.
F.
Perang Ahzab
Terjadinya
perang Ahzab ialah pada Syawal, tahun 5 Hijriah.
Sebab Peperangan
Sejumlah
pemuka Yahudi ingin membalas dendam terhadap umat Islam setelah pengusiran Bani
Qaynuqa’ dan Bani Nadhir dari Khaybar, sekelompok orang pimpinan Sallam bin Abi
al-Haqiq, Kinanah ibn Rabi’, dan Huyayy ibn Akhthab pergi ke Makkah untuk
mengajak kaum Quraisy memerangi umat Islam. Setelah itu mereka mendatangi suku
Ghathfan. Merka semua sepakat tentang waktu penyerangan.
Berita
sejumlah pemuka Yahudi tadi pun sampai ke telinga Nabi Muhammad dan segera
meminta pendapat para sahabat. Setelah Nabi Muhammad meminta pendapat para
sahabat Salman al-Farisi mengusulkan pembuatan parit di sekitar madinah
sehingga pasukan musyri tak bisa masuk ke kota. Usulan diterma dan langsung dikerjakan
seluruh umat Islam, termasuk Nabi sendiri.
Pasukan Musyrik dan Pemimpinnya
Pada
perang Ahzab ini pasukan musyrik Makkah dipimpin oleh beberapa nama ialah
seperti; Abu Sufyan, Bani Fuzarah dari suku Ghathfan dipimpin ‘Uyaynah bin
Hashan, Bani Murrah dipimpin Harits ibn Awf, dan Bani Asyja’ dipimpin Mis’ar
ibn Ruhaylah. Bani Kinanah, Bani Tihamah, dan Bani Najd juga ambil bagian
hingga 10 ribu prajurit. Semuanya bergerak maju menuju Madinah untuk
membinasakan umat Islam. Tetapi setibanya di Madinah Mereka dikejutkan oleh
parit, ide orang persa belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Mereka tak mampu
melewati parit, merasa gagal dan putus asa bila ada yang mencoba melewatinya ia
pasti akan mati seketika.
Hudzayfah Menyelidiki Pasukan Musuh
Untuk
mengetahui gerak-gerik musuh Nabi Muhammad mengutus Hudzayfa ibn al-Yaman untuk
menyelidiki apa yang di kerjakan oleh musuh. Selain itu juga Nabi berpesan
untuk tidak membunuh satu orangpun dari kaum Yahudi.
G.
Perang
Khaybar
Perang
Khaybar terjadi pada Muharram 7 Hijrah, kurag dari dua ulan perjanjian
Hudaybiyah, Perang in adalah buntut dari perjanjian Hudaybiyah tersebut.
Sebab Peperangan
Khaybar
merupakan markas kaum Yahudi dalam menghimpun sejumlah suku untuk melawan umat
Islam di Perang Ahzab. Oleh karena itu markas berbenteng ini harus dihancurkan.
Dengan jumlah 1.400 pasukan Islam yang diikuti oleh semua peserta Baiat Ridwan.
Sedangkan pasukan Yahudi Khabar berlindung di balik benteng dengan jumlah
10.000 orang dengan ditambah 1000 orang dari Ghathfan. Sesampainya pasukan yang
Nabi Muhammad bawa tiba di pinggiran kota Khaybar mereka bermalam sejenak dan
menginap disana. Pagi harinya petani Khaybar yag keluar untuk berkerja sangat
terkejut melihat keberadaan pasukan muslim tersebut. Setelah teriakan dari
petani tadi mengejutkan kaum Yahudi, Umat Islam berhasil menduduki benteng
Khaybar satu demi satu kaum kaum Yahudi menyerah.
H.
Perang Mut’ah
Syek
al-Mubarakfuri berkata, “Perang ini paling dahsyat dan paling berdarah yang
pernah dialami umat Islam semasa hidup Nabi.” Ia menjadi pintu gerbang
penaklukan negara-negara kekuasaan Byzantium oleh umat Islam.Perang ini meletus
pada Jumadil Ula,
8 Hijriah.
8 Hijriah.
Sebab Perang Mut’ah
Sariyyah
umat Islam, yang berjumlah 14 lelaki pimpinan Ka’b ibn ‘Umayr, menuju Syam
untuk keperluan dakwah Islam. Di tengah jalan mereka diadang dan dihabisi
pasukan Ghassaniyah (sekutu Byzntium). Salah seorang pembesar Ghassaniyah juga
membunuh Harits ibn ‘Umayr, utusan Nabi. Peristiwa ini ditambah ancaman Bani
Ghassaniyah yang akan menyerang Madinah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar