A. Histografi Tradisional
Dalam pengertiannya Historiografi tradisional merupakan suatu karya yang tidak
dapat dianggap sebagai karya yang sudah selesai. Jadi, sebagai sumber,
historiografi tradisional berkedudukan sebagai sumber sekunder. Sedangkan dalam
penelitiannya historiografi tradisional harus melalui tahap : (1) kritik
ekstern pada penelitian sejarah; (2) kritik intern, seperti yang dikerjakan
dalam penelitian filologi; dan (3) diperlukan kesadaran dan pengetahuan yang
mendalam tentang latar belakang kultural masyarakat yang menghasilkan karya
historiografi tradisional.
Secara keseluruhan historiografi tradisional mencerminkan kenyataan riil yang
dihayati dan patokan nilai yang dihayati (diberi makna, ditafsirkan berdasarkan
the myth of concern). Kedua hal tersebut mempunyai beberapa
kecenderungan yang sama yang tidak berhenti pada usaha penyalinan peristiwa,
tetapi terlibat langsung dalam hal yang diceritakan karena peristiwa haruslah
ada maknanya, yaitu peristiwa dan konsepsi yang terjalin oleh pandangan dunia
yang utuh (Abdullah, 1985: 24).
Menurut Raymond Williams Ada kecenderungan bahwa historiografi tradisional
bermuatan the myth of concern (mitos penguat) yang bertujuan utama untuk
memelihara keseimbangan, atau kewajaran kosmos, dan berfungsi bagi kemantapan
nilai dan tata yang berlaku, penguatan kekuatan magis penguasa, titisan dewa
(anak dewa) (Abdullah, 1985: 23), legitimasi dengan penonjolan dalam penerimaan
wahyu, wangsit, atau pulung (Kartodirdjo, 1991: 232).
Tradisi lisan penting bagi masyarakat yang belum atau sedikit mengenal
kebudayaan tertulis karena dapat mengisi kekosongan data dari sumber-sumber
lain, serta mengetahui sikap dan pengertian yang diberikan masyarakat bahwa
terhadap peristiwa tertentu. Menurut Vansina, tradisi lisan adalah bayangan
dari realitas (Abdullah, 1985: 25). Tradisi lisan tidak identik dengan realitas
atau peristiwa, tetapi kebiasaan peristiwa itu dimengerti oleh masyarakat. Yang
bisa dimengerti adalah realitas baru. Realitas baru memberi patokan dalam
melihat peristiwa atau situasi yang kemudian dan waktu yang diterapkan pada
alam religiomagis memunculkan realitas baru.
Realitas baru dapat berbentuk
metamorfosis personafikasi, yaitu suatu norma atau ide demi kelanjutan
dapat berubah menjadi tokoh historis (Abdullah, 1985: 26). Metamorfosis memang
agak ekstrim, tapi yang muncul adalah realitas baru yang merupakan fakta
sementara, yang harus dihadapkan dengan fakta yang berasal dari sumber lain
(prosedur kolaborasi) (Abdullah, 1985: 26).
Fenomena personafikasi
adalah perubahan yang memunculkan tokoh sejarah dalam arti historiografi
tradisional. Penokohan itu dimaksudkan untuk melanggengkan suatu norma, ide,
nilai, atau konsep kehidupan yang mungkin dianggap sebagai sesuatu yang
berharga dalam hidup. Sedangkan Depersonafikasi adalah gejala
perubahan dari tokoh menjadi nilai-nilai. Disini, sejarah dinilaikan
berdasarkan perilaku dan sikap hidup tokoh tertentu. Namun, mendepersonafikasi
seorang tokoh itu tidak mudah sehingga ada usaha untuk mempersonafikasikan
kembali nilai-nilai dalam bentuk tokoh. Contohnya adalah Hyang Ismaya, salah
seorang dewa pribumi yang bertrium-virat dengan Hyang Guru dan Hyang Antaga.
Hyang Ismaya yang disifatkan dengan dewa yang menitis pada manusia, yaitu Semar
(Mulyono, 1982: 38; Onghokham, 2002: 192).
B.
Penamaan
Bekasi
Secara de fakto kata Bekasi memiliki arti serta nilai sejarah lokal yang
khas. Seperti yang dikemukakan oleh Poerbatjaraka, beliau berpendapat tentang
Asal mula kata Bekasi. Secara filosofis, berasal dari kata “Chandrabhaga”
berasal dari dua kata Chandra dan Bhaga. Adapun pengertian dari dua kata
tersebut ialah seperti berikut: Chandra berarti “bulan” dan Bhaga berarti
“bagian”. Jadi, secara etimologis kata Chandrabhaga berarti
bagian dari bulan.
Lambat
laun kata Chandrabhaga berubah menjadi Bhagasasi yang
pengucapannya sering disingkat menjadi Bhagasi. Kata Bhagasi
ini dalam pelafalan bahasa Belanda sering kali ditulis “Bacassie”
kemudian berubah menjadi Bekasi hingga kini selain itu dari berbagai
sumber tertulis abad ke 18 sampai 21 menerangkan nama Bekasi ditulis
dengan penamaan Bekasie, Bekasjie, Bekasie, Bekassi dan terakhir Bekasi[1].
Di
masa sesudah Kemerdekaan Indonesia ataupun saat merebut kemerdekaan pada abad
ke-20, Bekasi dikenal sebagai “Bumi Patriot”, yakni sebuah daerah yang dijaga
oleh para pembela tanah air. Mereka berjuang di Bekasi sampai titik darah
penghabisan untuk mempertahankan negri tercinta dan merebut kemerdekaan
Republik Indonesia dari tangan penjajah. Di sisi lain sejarah kepahlawanan
Bekasi tersebut tertulis dengan jelas dalam setiap bait guratan puisi heroik
Pujangga Besar Chairil Anwar yang berjudul “Karawang – Bekasi”.
C. Kesenian Bekasi
Meski dikenal sebagai kawasan industri, bukan berarti segala hal di daerah
Bekasi berbau modernisasi. Salah satu wilayah di Jawa Barat tersebut tetap
memiliki kebudayaan lokal yang dapat dinikmati.
Berikut tujuh kesenian tradisional yang dapat dijumpai di Bekasi :
A. Kesenian Wayang Kulit Bekasi.
Pertunjukan
bayangan ini memiliki latar belakang yang hampir sama dengan wayang kulit pulau
Jawa. Tetapi bila dilihat dari segi permainan, kesenian ini lebih cenderung
mengadopsi budaya Sunda. Keunikan wayang kulit asal Kabupaten Bekasi tersebut
adalah adanya tokoh yang mirip dengan wayang golek seperti Cepot dan
Udel. Begawan Durna juga digambarkan dengan cara berbeda yaitu dengan wajah
seperti orang Arab dan memakai topi haji.
B. Kesenian Tanjidor Bekasi.
Sebagai
daerah yang berbatasan langsung dengan ibukota negara, kebudayaan Bekasi juga
mendapat pengaruh dari kultur Betawi. Maka tidak mengherankan jika di salah
satu wilayah Jawa Barat tersebut dapat dijumpai kesenian Tanjidor Bekasi.
Tanjidor di Kabupaten Bekasi mengandung unsur Parahiyangan atau Sunda
karawitan. Sedangkan tanjidor yang berkembang di Kota Bekasi lebih kental
dengan nuansa Betawi.
C. Kesenian Kliningan Tanji.
Dalam
pertunjukan ini, penonton akan dihibur oleh lantunan suara juru kawih alias
sinden. Selain itu, ada juga penampilan tarian khas yang dinamakan japin atau japlin.
D. Kesenian Calung Dalengket.
Kesenian
ini dimainkan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 9 orang. Setiap
anggota memainkan alat musik yang berbeda. Kesenian yang biasa dipentaskan usai
musim panen tersebut mengkombinasikan suling toleat, saron, kedemung, nenge,
rebab, serta gong. Masyarakat Bekasi kerap melombakan kesenian tersebut.
Uniknya, pemenang lomba Calung Dalengket tidak ditentukan berdasarkan
penilainan juri melainkan oleh apresiasi penonton.
E. Kesenian
Samrah.
Pada
pagelaran samrah penonton disuguhi musik serta tari yang khas dengan nuansa
Timur Tengah. Kesenian samrah juga mempertontonkan lakon atau teater yang
diiringi pantun.
F. Kesenian Godot.
Seni
olah tubuh yang juga berkembang di Karawang tersebut memiliki empat gerakan
dasar dan dua gerakan tambahan. Dengan mempelajari godot, Anda dapat mengusai
teknik pertahanan diri seperti memukul, menendang, menangkis, dan menghindar.
G. Kesenian Topeng Bekasi.
Salah satu teater rakyat yang penyajiannya total dan intim adalah Topeng
Bekasi. Total artinya melibatkan beberapa unsur seni seperti seni musik, tari,
vokal, sastra, dan seni peran. Intim artinya terjalinnya hubungan yang akrab
antara penonton dan pemain ketika pertunjukkan berlangsung.
Tokoh yang berjasa mengembangkan topeng Bekasi adalah Kacrit dan Seli.
Kedua tokoh ini memberikan peran yang besar dalam mempopulerkan seni topeng
Bekasi.
Adapun bentuk Pertunjukkan topeng Bekasi susunannya sebagai berikut :
1. Pemukulan gong sebanyak naktu hari
Pertunjukkan Topeng Bekasi diawali dengan menabuh gong sebanyak naktu (nilai
hurup Sunda untuk menghitung hari baik dan buruk). Misalnya bila pertunjukan
dilakukan senin gong ditabuh empat kali. Selasa tiga kali, rabu tujuh kali,
kamis delapan kali, sabtu sembilan kali, dan minggu lima kali.
2. Tatalu
Selanjutnya penyajian tatalu yang diawali dengan bunyi rebab pada lagu
oray-orayan.
3. Ijab Kabul
Ijab kabul dilakukan pada pertunjukkan topeng dalam acara hajatan keluarga,
tapi jika pertunjukkan dilaksanakan dalam acara hiburan biasanya diisi dengan
sambutan-sambutan dari penyelenggara.
4. Penyajian tari-tarian
Kemudian ditampilkan tari-tarian, tarian pertama ditampilkan tari topeng
tunggal. Tari topeng tunggal menampilkan tiga karakter.
5. Penyajian lawakan
Setiap karakter digambarkan dengan menggunakan topeng yang berbeda yaitu topeng
subadra, kedok satria ladak dan kedok rahwana. Tarian ini dibawakan oleh penari
wanita. Berikutnya penampilan lipet gandes dengan bodor. Selanjutnya disajikan
pula beberapa tarian seperti enjot-enjotan, kang aji dan tarian oncom lele.
6. Penyajian lakon cerita
Selesai penyajian tari ditampilkan lakonan dengan cerita yang bertemakan
kehidupan sehari-hari dalam keluaraga seperti ngaruju, ngalinter, bodo pinter,
ngabongkak.
D. Ujungmalang Wilayah Bekasi
Pada awal abad ke-20 Ujungmalang merupakan suatu perkampungan kecil sekitar 50
hektar. Serta pada awal abad ke-20 tersebut Ujungmalang masuk kedalam wilayah
Onder-district Babelan, yang merupakan Distrik Bekasi, Ragenstchap (Kabupaten)
Messter Cornelis Resdensi Batavia adapun letak geografisnya ialah terletak di
pesisir utara pulau Jawa bagian barat, membujur antara 106° 48’ 79-107° 77’ 29
BT, dengan suhu udara cukup panas.
Di sekeliling kampung terbentang ratusan hektar sawah dan rawa menjelang musim
kemarau hamparan padi menguning dan bergelombang ditiup semilir. Di kampung
ujungmalang ini berdiri belasan rumah dengna jumlah pendduk sekitar 100 orang.
Di halaman serta perkarangna rumah daerah Ujungmalang ditumbuhi berbagai pohon
buah-buahanmsayuran,bambu,dan rumput liar.
Dalam sistem kepercayaan masyarakat Ujungmalang menganut ajaran agama Islam
meskipun di sekitar daerah tersebut masih terdapat unsur sinkretis dengan
animisme,dinamisme,dan Hindu-Budha.
Dari segi insfrastruktur jalan, wilayah Ujungmalang pada saat itu masih
berbentuk tanah, jika musim panas tiba yang berlangsung sejak April sampai
September jalan yang masih berbentuk tanah tersebut mengeras dan berdebu.
Sedangkan pada musim hujan antara bulan Oktober hingga maret tanah yang tadinya
menngeras menjadi tanah lunak,becek dan berlumpur.
Meski alam terkesan tidak ramah terhadap manusia, tetapi sikap penduduk kampung
tidak menganggap semua itu sebagai bentuk pemaksaan. Secara alami mereka
melakukan berbagai aktivitas yang dianggap pantas untuk dilakukan. Realita
hidup dijadikan seni,ibadah, dan harus diterima. Pada musim panas biasanya
penduduk menggarap, memanen, dan menjemur padi. Sedangkan pada musim hujan
mereka berjualan, membuat kerajinan rumah tangga, mencari ikan, mengontrol
kebun dan sawah. Adapun kegiatan ekonomi seperti menjual dan membeli barang
mereka harus mencari ke pasar Babelan, Bekasi, Kranji, Pondok Ungu, dan
Tanjungpriok hal tersebut dilakukan dengan berjalan. Meskipun kadang gerobak
sapi yang digunakan terbenam kedalam lumpur. Itulah khasnya masyarakat yang
menyatu dengan alam.[2]
Mungkin kita bertanya sering bertanya-tanya tentang makna nama setiap daerah
pada kota tertentu yang keberadaannya sangat uniqe, hal ini seperti yang
ada pada penamaan Ujungmalang, dalam penamaan Ujungmalang ini belum ada yang
bisa menjawab tentang penamaan tersebut. Akan tapi ada dua pendapat yang
menduga tentang nama UjungMalang adapun pendapat yang pertama ialah bahwa kata
“Ujungmalang” tersebut berasal dari dua kata Ujung dan Malang, Ujung yang
artinya Akhir dan malang yang artinya Menderita.
Jika merujuk dari kata Malang atau Menderita memang jika melihat pada realita
Ujungmalang sebelum abad ke-20 wilayah tersebut jarang di datangi oleh penduduk
lain. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut merupakan suatu daerah
terpencil dari penduduk yang berada di daerah pantai (utara) akan mencari
penghasilan atau berbelanja, maka mereka lebih senang ke Tanjungpriok,
sedangkan dari sekitar babalean lebih suka ke Bekasi. Lalu yang kedua, Malang
diartikan sebagai “lintasan” (cross) yang fungsinya sebagai sarana untuk
perjalanan antar kampung. Dengan kata lain jika seseorang penduduk akan
berpergian ke kampung lain, dia harus melalui kampung Ujungmalang. Atau juga
nama ujungmalang diambil dari nama perkampungan orang-orang kota Malang, di
Jawa Timur.
Dalam buku K.H Noer Alie Kemandirian ulama pejuang yang ditulis oleh Ali Anwar,
dijelaskan bahwa Ujungmalang merupakan kampung tertua di Babelan. Sekitar 5
kilometer kearah utara dari Ujungmalang, tepatnya di kampung Buni, pada tahun
1958 telah ditemukan sisa-sisa peradaban masyarakat setempat yang hidup pada
masa neolitikum. Selain itu ditemukan pula kerangka manusia dalam
kubur,peralatan hidup seperti beliung persegi,gerabah berbentuk
periuk,kendi,dan botol. Serta ada juga manik-manik dan perhiasan emas. “itulah
teknologi pertama masa bercocok tanam orang Babelan, Kami menamakannya Situs
Buni”. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Prof.Dr.R.Soejono seorang
arkeolog senior dari Deputi Bidang Pelastrian dan Pengembangan kebudayaan
Departemen Kebudayaan dan pariwisata.
Beranjak ke abad ke-5 hingga 7 masehi yang puncak kebudayaan situs Buni ini
terparti pada masa kerajaan Tarumanegara. Kebudayaan ini kemudian menyebar
sampai ke Jakarta, Karawang, Tanggerang, Banten, Cikampek, dan Bogor. Adapun
buktinya terdapat dalam prasasti Tugu. Dalam prasasti yang ditemukan di kampung
Tugu, Cilincing, Bekasi itu menceritakan tentang pembuatan sungai Chandrabhaga
dan sodetan sungai Gomati oleh raja Tarumanegara yang termansyhur kala itu dan
juga di daerah Cibuaya dan Batu Jaya Karawang sekitar 20 kilometer ke arah
timur dari Babelan telah ditemukan kompleks percandian masa kerajaan
Tarumanegara. Akan tetapi pada tahun 1970-an Cilincing dan Cakung dimasukkan
kedalam wilayah DKI Jakarta.
F.
Noer Alie
Harapan Bekasi
Jauh setelah kepercayaan terhadap agama Hindu dan Budha berkembang di
wilayah Bekasi dan saat masuknya Kolonialisme serta Imprealisme di Indonesia,
pada tahun 1913 telah tersebar luas suatu informasi tentang komonitas Serikat
Islam yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto.[3]
Adapun munculnya serikat Islam ini merupakan suatu kekuatan penampung aspirasi
masyarakat dari golongan bawah dan karena berlatar belakang Islam maka penduduk
Indonesia yang saat itu mayoritas islam ikut bergabung dalam organisasi ini, Di
sisi lain satu tahun setelah dilakukannya kongres pertama di Surabaya, yaitu
pada tahun 1914 lahirlah seorang Jabang bayi yang berjenis kelamin laki-laki di
wilayah Ujungmalang Bekasi yang bernama Noer Alie.
Noer Alie merupakan anak yang lahir dari rahim Maimunah binti Tarbin atas
bantuan dukun beranak dari kampung Asem, Maklimah. Dari penjealsan di atas
beliau merupakan salah satu orang yang lahir pada tahun 1914 dan tidak
mengetahui kapan bulan dan tanggal beliau dilahirkan hal ini karena masalah
yang di hadapi masyarakat Indonesia Umumnya yaitu kebiasaan penduduk kampung
tidak mementingkan hari kelahiran anaknya, ataupun penduduk kampung tidak
terbiasa mencatat peristiwa dalam bentuk tulisan.
Layaknya seorang anak, Noer Alie kecil merupakan seseorang anak yang disayang
oleh kedua orang tuanya dan jika kedua orang tuanya sedang sibuk untuk
melakukan rutinitas bekerja Noer Ali kecil di jaga oleh ketiga kakanya antara
lain: Thayyeb (kakak pertama), Arfah (kakak kedua), dan Maani (kakak ketiga).
Dan sering kali Noer Ali dimomong oleh kakek dan neneknya.
Seiring waktu berlalu Noer Alie kanak-kanak kemudian tumbuh menjadi remaja dari
masa remaja inilah Noer Alie melihat sesuatu yang tidak seharunya ada di tanah
Bekasi yaitu dengan liciknya para tuan tanah menyerobot tanah para penduduk.
Kalau tuan tanah membeli tanah, penetapan harganya ditetapkan oleh tuan tanah,
selian membeli tanah tuan tanah pun dapat menguasai tanah dengan sistem rente
dan di sisi lain belua juga meliha adanya sebagian masyarakat Bekasi
(Ujungmalang) yang melakukan suatu tindakan diluar syariat Islam situasi ini
beliau rasakan saat menuntut ilmu di Indonesia dengan guru yang memiliki
bermacam-macam
karakter dan tempat yang berbeda-beda, seperti :
1. Maksum di Kampung Bulak
2. Mughi di Ujungmalang pada tahun 1925
3. H. Marzuki di klender pada tahun
1931
Setelah langkahnya menuntut ilmu berakhir guru pada H. Marzuki di daerah
Klender, Noer Alie yang pada saat itu sedang memasuki usia dewasa mencoba
menuntut ilmu di daerah Makkah, meskipun awalnya ayah beliau yaitu Anwar merasa
sedih jika melihat situasi ekonomi yang kurang baik dengan adanya keinginan
oleh Noer Alie yang ingin berangkat ke Makkah. Dengan sedikit bantuan dari tuan
tanah di daerah Bekasi. Akhirnya Noer Alie pun berangkat ke Makkah, namun
sebelum berangkat beliau meminta restu kepada H.Marzuki yang merupakan gurunya
di Klender untuk menuntut ilmu di Makkah.
Dengan berbagai macam Ilmu Islam maupun Pengetahuan berorganisasi yang K.H Noer
Alie dapatkan antara masyarakat Indonesia yang berada di Makkah, akhirnya pada
tahun 1934 hingga 1939 beliau pulang ke tanah Air dengan nasihat yang
disampaikan oleh Syeikh Al-Maliki di Makkah. “Kalau kamu mau pulang, silahkan
pulang. Tetapi ingat jika bekerja jangan menjadi penghulu (pembantu
pemerintahan). Kalau kamu mengajar saya akan ridho’i dunia dan akherat”.
Setelah sampainya K.H Noer Alie dari perjalanan penjangnya yang telah menuntut
ilmu di Makkah, beliau di hadapkan dengan berbagai peristiwa yang menarik.
Bukan saja dari penjajahan yang melanda wilayah Indonesia tetapi juga niatnya untuk
membangun wilayah Ujungmalang menjadi salah satu kampung surga berhasil ia
laksanakan meski ada beberapa halangan yang membuat ia harus berfikir ulang
untuk mendapatkan hal tersebut.
Dalam hal membanngun surga K.H Noer Alie meminta bantuan kepada sahabatnya
terlebih dahulu untuk membantu dalam melaksanakan keinginan yang dulu beliau
inginkan, beliau meminta agar guru Zaharudin memberikannya satu badal yang
nantinya akan mengajari murid-murid K.H Noer Alie di tempat pengajian beliau
yang jumlahnya belum begitu banyak.
G. Sisi Timur Jakarta Semakin Panas
Pada
tanggal 15 oktober 1945 terjadi suatu Provokasi tentara sekutu terhadap
pimpinan Klender, H. Darip yang telah melakukan kontak dengan para pemimpin
pasukan disekitarnya mendapat pasukan bantuandari Muhayar di Bekasi,
Lukas Kustaryo dengan pasukannya dari madiun, Matnuin Hasibuan dari BKR Laut
yang bermarkas di Cilincing, K.H Noer Alie dari Ujungmalang, dan Husein Kamaliy
dari Kranji. Ketika tentara sekutu memasuki wilayah Klender , masyarakat
diperintahkan untuk tidak mealukan perlawanan. Tetapi setelahmereka hendak
menduduki dan kelihatannya mulai lengah, tiba-tiba dari rumah-rumah penduduk
barisan rakyat yang bersenajat golok dibantuk oleh satu kompi pasukan yang bersenjata
bedil, menyerang serdadu-serdadu Sekutu. Dalam hal ini pertempuran terjadi
hingga mengakibatkan kedua belah pihak memiliki korban. Dalam hal ini tentara
sekutu mundur dan moral masyarakat bangkit kembali.
Mereka berasil memukul mundur pasukan sekutu di Klender, tanggal 16 Oktober
1945 penyerangan dilakukan kembali oleh barisan rakyat. Kali ini terhadap salah
satu pos NICA yang berpangkalan di pondok gede. Dalam hal ini penyerangan
dilakukan oleh rakyat dengan menggunakan barisan 3 kompi penggempur bersenjata
yang agak lengkap dengan bedil serta beberapa senjata otomatis berhadapan
dengan NICA yang berkekuatan 2 kompi. Barisan rakyat yang terdiri dari para
pembawa granat d tangan dan bom batok ditempatkan antara Cawang-Pondok Ged.
Setelah pertempuran berjalan sekitar tiga Jam, NICA mundur kedalam kota dan
barisan Rakyat dapat merampas beberapa senapan dan 3 truk NICA dibakar. Hal ini
sebagai balasan atas pembakaran masyarakat Cibening dan Cakung sehingga 138
rumah rakyat terbakar pada tahun 17 Oktober 1945.
Serangan dan pegencatan barisan rakyat membuat sekutu kewalahan. Karenannya
sekutu meminta bantuan RI unntuk mengamankan tugasnya, yang pada hakekatnya
mengakui eksistensi dan kedaulatan RI. Momentum ini dimanfaatkan oleh Sjahrir
yang sedang mencari simpati dunia Internasional. Untuk itu dia mengintrusikan
kepada rakyat Indonesia agar membantu tugas tentara sekutu.
Bagi para pemimpin di tingkat lokal, semua perintah pusat tersebut tidak masuk
akal, karena mereka dihadapkan dalam kondisi objektif berupa provokasi dan
beban historis dari pihak musuh. Karenanya meski pemerintah Republik sudah
mengintruksikan agar rakyat tidak memberhentikan kendaraan yang melintasi
Bekasi, tetapi juga rakyat bekasi yang biasa ditiitipkan tawanan dari Jakarta
untuk diadili tetap tidak menghiraukan hal tersebut.
Menteri Amir Sjarifuddin yang didesak oleh Jendral Christison untuk memulangkan
tawanan yang berada di Bekasi dan ditukar dengan pemuda-pemuda yang ditawan
oleh Sekutu. Dalam desakan ini Amir Sjarifuddin yang merupakan menteri tidak
dapat memenuhi permohonan Jendral Christion untuk membawa tawanan yang berada
di Bekasi meskipun telah meminta bantuan Madnuin Hasibuan.
Pada tanggal 19 Oktober 1945 kereta api dari Jakarta yang mengangkut tawanan
tentara jepang menuju CIater untuk selanjutnya melalui pesawat udara di
Kalijati akan dipulangkan ke jepang, namun penjegatan itu sempat lolos dari
pemuda Bekasi, tetapi setibanya di Cikampek kereta api tesebut dihentikan dan
diperintahkan kembali ke Bekasi Untuk diperiska. Setibanya di Bekasi, Seluruh
gerbong digeledah dari Sembilan gerbong ternyata ada tiga gerbong yang berisi
tawanan Jepang.
Dalam penggeledahan yang dilakukan oleh Pemuda Bekasi terjadi hal Ekstrim yaitu
para tentara jepang dikelucuti pakaiannya dan digiring ke kali Bekasi kemudian
dijagal sehingga kali tersebut berwarna merah dari darah tentara Jepang.
Pemimpin Republik dan Jepang di Jakarta terperengah atas insiden di wilayah
Kali Bekasi tersebut. Sementara sekutu tidak dapat berbuat banyak. Sebagai
tanda bertanggung jawab terhadap dunia internasional dan dalam rangka
menenangkan Bekasi, pada tanggal 25 Oktober 1945 Presiden Sukarno datang ke
Bekasi. Di hadapan rakyat bekasi Sukarno meminta agar rakyat jangan mencampuri
urusan kereta api dan jangan mengacaukan perjalanan.
H. Bekasi Lautan Api
Ketika Suasana duka masih menyelimuti kampung Ujungmalang
dan sekitarnya pada 5 Desember 1945, K.H Noer Alie didatangi mertua dari
Madnuin Hasibuan. Beliau menaporkan kepada K.H Noer Alie bahwa Madnuin Hasibuan
ditangkap NICA di jalan Mojopahit, Jakarta,Sekitar Jam 13.30 setelah
menyelesaikan keperluan di jalan Cilacap, saat ditangkap Madnuin Hasibuan
menggunakan sedan bersama Wedana Tanjungpriok, Hindun Witawinangunm serta
pengemudi Ibrahim, saat itu mereka di tahan di kamp polonia dan mendapat
siksaan dari NICA. Sehingga Hidun Witawinangun meninggal dunia dan dimakamkan
di pemakamanan Karet. Mertua Madnuin Hasibuan yang khawatir terhadap
keselamatan Hasibuan mendatangi K.H Noer Alie dengan harapan dapat menolong
Hasibuan. Tetapi beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak mempunyai
hubungan dengan pemerintah RI. Meskipun sempat disiksa akhirnya pada 15
Desember 1945 Hasibuan dipulangkan meskipun sempat disiksa.
Berawal
dari pembunuhan 26 orang tentara Jepang di Bekasi membuat tentara sekutu tidak
menghiraukan seriuan sjahrir aga tetap sabar. Sehingga melampiaskan
kemarahannya, pada 13 Desember 1945 pagi mereka melakukan penyerangan kembali
ke Kota Bekasi. Pasukan yang dikerahkan lebih besar disbanding sebelumnya
dengan kekuatan lebih dari 1 batalion invanteri, dan berpuluh-puluh pansher,
pesawat Jagger, 78 Truk penuh berisi serdadu Inggris-India yang diengkapi persejataannya,
langsung menuju Bekasi. Semetara TKR dan badan-badan perjuangan tidak mampu
menahan desakan sekutu menghadapi serangan besar-besaran ini, K.H Noer Alie
mengambil sikap untuk memerintahkan oasukan Laskar Rakyat Bekasi untuk tidak
melakukan perlawanan, kecuali Jika Sekutu menyerang Kaliabang dan Ujungmalang.
Hal ini untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak lagi.
Setibanya di Bekasi, pesawat udara Sekutu yang mengiringi pasukan dan melakukan
serangan secara membabi-buta dengan menggunakan bom pembakar, sehingga beberapa
rumah penduduk di kampung dua ratus terbakar, ketika mereka tiba di tangsi
polisi Bekasi, Kaum republic telah mengundurkan diri. Kemudian pasukan Jepang
menyirami ruma-rumah penduduk dengan bensin , lantas memakarnya dengan bom
pembakar yang di bawa tadi. Pembakaran ini meluas sampai ke telubuyung,
Telukangsan, da pasar Bekasi. Kota bekasi menjadi unggun raksaksa tanpa ada
yang sanggup memadamkannya.
Dari Hasil pendataan KNID Bekasi, sebegitu jauh tidak ada penduduk yang
tewas,tetapi ada 14 penduduk yang terluka, 641 keluarga yang berjumlah 3379
Jiwa kehilangan tempat tinggal dan 3 mobil terbakar, diantaranya mobil kantor
berita ANtara. Sedangkan jumlah korban yang luka-luka dirawat di rumah sakit
Bayu Asih Karawang. Sebagai dampak dari Bekasi Lautan Api ini Sekutu dan NICA
dikecam oleh Pers Nasional dan Internasional karena seperti peristiwa Nazi
–Jerman yang membumihanguskan Kota Lydice-Cekoslowakia dalam perang dunia II.
I. Resolusi Rakyat Bekasi
Sejarah terbentuknya Bekasi dimulai dengan dibentuknya "Panitia Amanat
Rakyat Bekasi" yang dipelopori R. Supardi, M. Hasibuan, KH. Noer Alie,
Namin, Aminudin dan Marzuki Urmaini, yang menentang keberadaan RIS dan
Pasundan serta menuntut berdirinya kembali Negara Kesatuan RI. Selanjutnya
diadakan Rapat Raksasa di Alun-alun Bekasi yang dihadiri oleh sekitar 25.000
orang rakyat Bekasi pada tanggal 17 Pebruari 1950. Menyampaikan tuntutan Rakyat
Bekasi yang berbunyi :
(1)
Penyerahan kekuasaan Pemerintah Federal kepada Republik Indonesia,
(2)
Pengembalian seluruh Jawa Barat kepada Negara Republik Indonesia,
(3)
Tidak mengakui lagi adanya pemerintahan di daerah Bekasi, selain
Pemerintahan
Republik Indonesia.
Menuntut kepada Pemerintah agar nama Kabupaten Jatinegara diganti menjadi
Kabupaten Bekasi. Upaya para pemimpin Panitia Amanat Rakyat Bekasi untuk
memperoleh dukungan dari berbagai pihak terus dilakukan. Diantaranya
mendekati para pemimpin Masjumi, tokoh militer Mayor Lukas Kustaryo dan
Moh. Moefreini Mukmin) di Jakarta. Pengajuan usul dilakukan tiga kali antara
bulan Pebruari sampai dengan bulan Juni 1950 hingga akhirnya setelah
dibicarakan dengan DPR RIS, dan Mohammad Hatta menyetujuim penggantian nama
“Kabupaten Jatinegara” menjadi “Kabupaten Bekasi”.
Persetujuan pembentukan Kabupaten Bekasi semakin kuat setelah dikeluarkannya
Undang-undang No. 14 Tahun 1950. Kabupaten Bekasi secara resmi dibentuk dan
ditetapkan tanggal 15 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Kabupaten Bekasi.
Selanjutnya pada tanggal 2 April 1960 Pusat Pemda Bekasi semula dipusatkan di
Jatinegara (sekarang Markas Kodim 0505 Jayakarta, Jakarta) dipindahkan ke
gedung baru Mustika Pura Kantor Pemda Bekasi yang terletak diBekasi Kaum JI.
Jr. H. Juanda.
J. Daerah Rawan Bencana Sosial di Bekasi
1. Sosial
Politik.
Kesadaran politik dikalangan masyarakat di Kabupaten Bekasi termasuk di
Kecamatan Tambun Utara sudah ada. Selama berlangsungnya Pemilihan Umum (Pemilu)
dan pemilihan kepala daerah (Pilkada) relatif tidak pernah menimbulkan konflik,
sehingga pelaksanaan pesta demokrasi rakyat berlangsung aman. Namun tidak
demikian dalam proses pemilihan kepala desa, khususnya di Kecamatan Tambun
Utara dan Kecamatan Babelan, pelaksanaan pemilihan kepala desa seringkali
menimbulkan kerusuhan antar pendukung. Hal tersebut terkait dengan adanya
semacam “bela kampung” oleh warga masyarakat terhadap calon kepala desa yang
didukungnya.
2. Sosial Ekonomi
Secara sosial ekonomi, masyarakat di Kabupaten Bekasi
khususnya di Kecamatan Tambun Utara terdiri atas masyarakat kaya (25 %),
menengah (25 %), dan masyarakat yang miskin (50 %). Masyarakat miskin di
Kecamatan Tambun utara sebagaimana di tempat-tempat lainnya tercatat
sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Hubungan sosial dari ketiga
lapisan ekonomi diantara masyarakat tersebut kurang berjalan mulus, yakni
masyarakat yang kaya kurang dapat merangkul masyarakat di bawahnya dalam
aktivitas ekonomi, sehingga yang kuat atau kaya dengan yang lemah atau miskin
tampak menonjol.
3. Urbanisasi dan Industri
Kabupaten Bekasi merupakan daerah urbanisasi dengan
intensitas tinggi, yang ditandai dengan tingginya penduduk pendatang (temporer)
yang memenuhi ruang wilayah Bekasi. Begitu pula pertumbuhan industri yang pesat
yang ditandai dengan banyaknya pembangunan pabrik berskala nasional, menjadikan
Kabupaten Bekasi sebagai daerah industri.
4. Keragaman Keyakinan.
Dari berbagai pandangan para tokoh yang hadir pada saat
dilaksanakan diskusi kelompok terfokus, terungkap bahwa di beberapa kecamatan
Kabupaten Bekasi terdapat beberapa hal berkaitan dengan keragaman keyakinan,
yaitu :
a.
Adanya kelompok Ahli Sunnah
Waljamaah (di Desa Sriamur) yang berasal dari luar dan memiliki perbedaan
keyakinan dengan mayoritas umat Islam di Kabupaten Bekasi.
b. Adanya rumah yang dijadikan
tempat peribadatan oleh warga pendatang di tengah-tengah pemukiman warga yang
berbeda keyakinan agama.
c.
Terdapat sekelompok orang yang
menamakan diri sebagai Forum
Komunikasi Sunda Nusantara, yang ingin mendirikan negara sendiri.
K. Jenis konflik yang terjadi di Bekasi
Dalam kondisi sosial di Bekasi yang
memiliki beraneka ragam kepercayaan agama maupun kepercayaan secara ras atau
suku dapat timbul beberapa Jenis konflik di wilayah Bekasi, antara lain ialah
sebagai berikut :
1. Bentrokan antar pendukung dalam
pemilihan kepala desa, khususnya desa-desa di wilayah Kecamatan Tambun Utara
dan Kecamatan Babelan, namun sifatnya insidental dan tidak meluas menjadi
konflik sosial yang berkepanjangan.
2. Konflik vertikal antara sekelompok
orang yang menamakan diri sebagai Forum Komunikasi Sunda Nusantara yang ingin
mendirikan negara sendiri.
3. Akibat adanya rumah tempat tinggal
yang dijadikan tempat kegiatan peribadatan oleh agama tertentu yang berbeda
dengan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk setempat, masyarakat
pribumi merasa terganggu dengan acara-acara peribadatan, sehingga
menimbulkan issu akan ada pengerahan masa.
4. Konflik latent terkait dengan
pendirian bangunan tempat peribadatan yang dipandang oleh masyarakat kurang
tepat, sehingga potensi konflik bernuansa agama cukup tinggi.
5. Perselisihan antar warga yang
tinggal disekitar bantaran sungai, yang berfokus pada masalah tanggul saluran
air.
6. Konflik latent terkait dengan
pengangguran yang tinggi di tengah-tengah daerah industri/pabrik, sangat
potensial menimbulkan konflik.
[2]
Hasil wawancara Ali Anwar dengan Hj. Marhamah, Tambun, Bekasi, 3 Februari 1992
[3]
Drs. Anhar Gonggong, H.O.S TJOKROAMINOTO, Jakarta 1986, Hlm.21